Naskah Drama Wayang Singkat

assalamualaikum wr, wb

Kali ini admin akan membagikan naskah drama singkat pewayangan dimana cerita yang saya angkat pada drama ini adalah ekalaya melawan arjuna.

Cerita ini diawali ketika arjuna menyadari bahwa ada seorang bukan dari bangsawan yang bisa menandingi kehebatannya. arjunapun tidak terima dengan kenyataan tersebut, akhirnya arjuna menantang ekalaya yang memiliki kesaktian diatas arjuna. tetapi, ekalaya harus kalah dari arjuna karena aji mustika ampal milik ekalaya telah diambil oleh guru drona dan diberikan kepada arjuna, arjunapun menggunakan aji tersebut untuk mengalahkan ekalaya.

naskah drama wayang singkat
naskah drama wayang singkat


tokoh yang dibutuhkan :

  1. anggraeni
  2. ekalaya
  3. arjuna
  4. prajurit (2-6 orang)
perlengkapan / properti yang dibutuhkan

  1. mahkota pangeran 1 buah
  2. rompi pangeran 1 buah
  3. sepasang pelindung pergelangan tangan sejumlah tokoh pria
  4. keris untuk ekalaya
  5. 2 buah panah
  6. tombak setinggi 1.5-2 meter sejumlah prajurit
  7. rompi perang / pelindung dada untuk prajurit
  8. sepansang hiasan lengan atas untuk pangeran
kostum

  1. jarik sejumlah pemain pria
  2. kebaya untuk anggraeni
  3. celana panjang atau pendek sejumlah pemain pria
  4. kaos polos hitam / putih sejumlah pemain pria
  5. udeng atau ikat kepala untuk ekalaya
pendukun lain- lain :

  • soundtrack mahabarata

namun beberapa adegan sudah kami rubah sedemikian rupa
Anggraeni           : “Ada apa dengan kau Kakang mas?” (ekspresi cemas)
Ekalaya                 : "Aku ditantang oleh Harjuna melalui adu pemeling, Anggraeni"
Anggraeni           : “Harjuna?!” (kaget) "Apakah Kakang Mas akan menerima tantangan dari Harjuna tersebut?"
Ekalaya                 : “Tentu, Sebagai kesatrya aku akan memenuhi tantangan itu. Kamu jangan cemas Anggraeni.”
Anggraeni           : “Dengan kondisimu saat ini yang sedang tidak berdaya itu? Kamu yakin Kakang Mas?”
Ekalaya                 : “Tentu Anggraeni. Apakah seorang kesatrya lebih bagus bersembunyi daripada memenuhi tantangan untuk beradu kekuatan,? Tentu tidak sayangku.”
Anggaraeni         : (menggeleng lemah.) “Memang Kakang Mas, seorang kesatrya seharusnya memenuhi tantangan daripada bersembunyi. Tapi dengan kondisi yang seperti saat ini apa tidak seperti engkau menghampiri ajalmu Kakang Mas?”
Ekalya             : “Tidak Anggraeni, Aku tidak akan menjemput ajalku aku akan berperang tanding melayan Harjuna.”
Anggraeni        : “Perang tanding? Dengan Harjuna yang memiliki kesaktian madraguna tersebut kau akan perang tanding?”
Ekalaya           : “Iya Anggraeni, aku akan memenuhi tantangan Harjuna yang sakti mandaraguna serta tampan untuk perang tanding!”
Anggraeni        : “Oh, bukan maksudku…” (Anggraeni tersadar bahwa kata-katanya telah membuat Ekalaya cemburu.) “Maafkan aku Kakangmas, jikalau ucapanku membuat Kakang Mas sakit hati. Aku tidak bermaksud untuk mengunggul-unggulkan Harjuna, tetapi bukankah Sekarang kondisi Kakang Mas Ekalaya belum mampu untuk menarik anak panah dari busurnya.”
Ekalaya           : “Aku tidak akan takut akan hal itu, Anggraeni.”

Anggraeni        : “Aku sangat percaya jika Kakang Mas merupakan kesatrya pemberani, dan tidak akan takut kepada semua lawannya. Akan tetapi, apakah Kakang Mas juga selalu mempunyai perhitungan yang cermat terhadap lawan-lawannya?”
(Ekalaya akhirnya memiliki rasa bimbang untuk memilih antara memenuhi tantangan ataukah bersembunyi. Jika memnuhi tantangan apa yang bisa diandalkan, dan jikalau memilihi untuk bersembunyi apa yang bisa dijadikan alasannya. Akan tetapi, akhirnya Ekalaya gigih memilih untuk memenuhi tantangan lawannya, Arjuna. Anggraeni menatap Ekalaya sembari meneteskan air mata kesedihannya.)

Ekalaya           : “Maafkan aku Anggraeni, terimakasih atas semua kesetianmu.”

Anggraeni        : “Ada apa denganmu, Kakangmas?”
Ekalaya           : “Anggraeni, semua tugasku telah rampung, dan kini saatnya aku Untuk meninggalkan Paranggelung selamanya.”


 (soundtrack 1 mahabharata sambil narator membaca narasi, ekalaya memragakan adegan sesuai narasi, diiringi soundtrack)
 
Akhirnya Ekalayapun bangkit dan berdiri membawa pusaka Gandewa, melangkah dengan gagah keluar dan menembus gelapnya malam. Aggraeni sadar bahwa dirinya tidak mungkin  mencegah seoarang Ekalaya, karena apa yang dipilih oleh Ekalaya sepertinya tidak atas kehendaknya sendiri. Maka yang bisa dilakukan oleh Anggraeni adalah mengikuti suaminya melangkahkan kaki.

 Anggraeni        : “Kangmas!” (Teriak Anggraeni dengan kencang)

Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya Ekalaya sampai di perbatasan Paranggelung. Ekalaya menebaskan pandangannya ke segala penjuru arah. Dan akhirnya nampah ada tubuh ringan berkelebat mendekati Ekalaya.
(akhir soundtrack pertama dilanjutkan saoundtrak ke-2 sambil adegan ulangi soundtrack ke 2 seperlunya)
Ekalaya           : “Arjuna!”
(prajurit menyerang Ekalaya dimulai dengan seranga tombak dari prajurit yang dilemparkan secara bergantian namun ekalay mampu menangkis semua serangan, kemudian dilanjutkan dengan serangan jarak dekat oleh prajurit tetapi ekalaya menang)
 
Ekalaya         : "Apa maksudmu Harjuna, apakah engkau ragu dengan kesatianmu sehingga dikawal oleh pasukan untuk menemuiku?!"

arjuna             : "Sungguh beraninya engkau Ekalaya, mengejek seorang ksatria sepertiku ini. segera seranglah aku dengan semua kesaktianmu itu!!!" 
 
Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, keduanya mengambil posisi, bersiap-siap untuk perang tanding. Harjuna sebagai sang penantang mempersilakan sosok Ekalaya untuk melepaskan senjata terlebih dahulu. Segeralah Ekalaya memasang satu anak panah dan kemuadian menarik senjata gandewanya. Gandewa pusaka itu pun mengeluarkan cahaya, menerangi semua yang ada di sekelilingnya. Arjuna  pun memandang dengan sangat tajam, memusatkan semua kesaktiannya untuk menghadapi semua serangan dari Ekalaya. Namun Harjuna  merasa heran dengan kejadian yang dilihatnya depan mata. Tangan Ekalaya terus bergetar tak beraturan, dan  menyebabkan arah bidikannya kurang tepat sasaran.
 
 
Arjuna              : “Ekalaya, janganlah kau meremehkan aku, seranglah aku dengan kesaktianmu sungguh-sungguh.”

Ekalaya           : “Arjuna ! Jika aku meremehkanmu aku tidak akan mungkin datang memenuhi tantanganmu dalam keadaanku yang seperti ini,” (jawab Ekalaya sembari menunjukkan tangan kanannya yang tanpa ibu jari.)

Arjuna              : “Apa yang telah terjadi dengan ibu jari tanganmu Ekalaya?”

Ekalaya           : “Bapa Durna telah memotong ibu jariku.”

Bagai tersambar geledhek Arjuna pun terkejut mendengar ucapan  Ekalaya.

Arjuna              : “Jadi.. jadi selama ini ibu jari yang menempel di ibu jari tanganku ini punyamu Ekalaya?!” (Harjuna pun menunjukkan ibu jari tangannya yang  ada dua.)
 
Ekalaya           : “Baiklah Harjuna! Kini saatnya sudah tiba, giliranmu untuk menyerang aku. Aku semakin mantap bahwa pusakaku Mustika Ampal pemberian Sang Hyang Pada Wenang itulah yang akan mengantar aku ke pangkuan Nya. Harjuna, engkau adalah musuhku, engkau adalah sesamaku, dan engkaulah yang mendapat tugas untuk menyempurnakan hidupku. Terima kasih Harjuna. Lakukanlah!”

(Busur panah yang telah disiapkan oleh arjuna pun tidak segera ditarik oleh Arjuna. Tangan kanannya juga bergetar tak beraturan. Ia memiliki bersalah setelah mengetahui bahwa ibu jari yang menempel ini adalah jari milik Ekalaya. Jika pun dalam perang tanding kali ini Harjuna menang, apakah arti kemenangan itu? Gagahkah seorang kesatria dapat mengalahkan musuhnya dengan senjata hasil rampasan dari musuh yang bersangkutan?)

Ekalaya           : “Harjuna, lepaskan segera panah itu. Jangan merasa bersalah bahwa engkau telah merampas pusakaku. Dan jangan ragu menggunakan pusaka Mustika Ampal untuk mengalahkan aku. Karena sesungguhnya hanya dengan Cincin Mustika Ampal itulah engkau dapat mengalahkan aku. Bukankah engkau sendiri mengakui bahwa sebagian besar ilmu-ilmu Sokalima yang engkau kuasai, tidak mampu mengalahkan aku? Maka segera tariklah Gandewa itu. Inilah kesempatan yang engkau miliki untuk memenangkan pertandingan.”
 

Maka kemudian Harjuna telah benar-benar menarik busurnya. Sungguh luar biasa daya cincin Mustika Ampal yang sudah berpindah tuan tersebut. Dari mata anak panah yang telah lepas dari busurnya itu munculah bola api berwarna kebiru-biruan. Bola api itu semakin besar sehingga mengakibatkan tanaman perdu yang ada di sekitarnya layu terbakar. Dengan cepat bagai kilat dan gesit laksana petir api yang berwarna biru itu telah menggulung Ekalaya. 


Adegan di atas paling lama hanya 10 menit, tetapi dengan kekreativitasan para pemain akan memunculkan cerita yang menarik, jadi pesan saya usahan ketika adegan pertempuran antara ekalaya melawan para prajurit lakukan semenarik mungkin, sehingga akan menjadi puncak cerita atau hampir seperti klimaks.

Mungkin teman teman juga bisa melakukan banyak sekali improvisasi seperti menambah adegan percakapan dengan Anggraeni. Semisal pada adegan itu, ekalaya dan anggreani sedang makan di rumah mereka atau apalah. Ya intinya jangan sampai adegan kalian membosankan.

sekian postingan dari saya kurang lebihnya saya mohon maaf

wassalamualaikum wr, wb

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Unknown
    Unknown 23 November 2018 pukul 19.56

    Judulnya apa ya?

Add Comment
comment url